JAKARTA - Permasalahan limbah pertanian dan peternakan di Nagari Padang Toboh sebelumnya menjadi tantangan serius yang berdampak pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Jerami yang tersisa pascapanen kerap dibakar secara terbuka, sementara kotoran ternak belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut tidak hanya memicu pencemaran udara, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Berangkat dari situasi itu, Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau menghadirkan SI CADIAK (Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah) sebagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis ekonomi sirkular.
Limbah pertanian yang sebelumnya belum dikelola secara optimal kini diposisikan bukan lagi sebagai sisa hasil panen, melainkan sebagai sumber daya bernilai yang dapat dimanfaatkan secara produktif.
Melalui pendekatan eco-inovasi, jerami diolah secara berkelanjutan untuk menekan praktik pembakaran terbuka, meminimalkan dampak lingkungan, sekaligus meningkatkan efektivitas pemanfaatan potensi lokal.
Program ini mengubah limbah jerami dan kotoran ternak menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
“SI CADIAK menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan masyarakat mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan energi berbasis biogas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nagari secara inklusif,” ujar Roberth.
Proses Pengolahan dan Produk Bernilai Tambah
Sebanyak 894 ton jerami per tahun dan 864 ton kotoran ternak diolah menjadi kompos, bioetanol, parfum jerami ramah lingkungan bernama ARUWA, mendukung Program Sawah Pokok Murah, serta menghasilkan energi baru terbarukan melalui PLTS yang dimanfaatkan untuk mendukung Learning Center UKASEMA.
Pendekatan ekonomi sirkular ini memastikan bahwa tidak ada limbah yang terbuang sia-sia. Jerami yang sebelumnya dibakar kini difermentasi atau diolah menjadi kompos untuk meningkatkan kesuburan tanah. Sementara kotoran ternak dimanfaatkan sebagai bahan baku energi biogas dan produk turunan lainnya.
Inovasi parfum jerami ARUWA menjadi salah satu produk unik bernilai tambah. Produk tersebut menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi komoditas kreatif yang memiliki nilai jual di pasar.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, diversifikasi produk ini juga memperluas peluang usaha berbasis sumber daya lokal.
Dampak Lingkungan dan Sosial yang Signifikan
Dampak yang dihasilkan pun signifikan, antara lain penurunan emisi hingga 1.305 ton CO?e per tahun, pengurangan kasus ISPA sampai 80% dalam periode 2022–2025, serta peningkatan pendapatan masyarakat hingga 63% melalui diversifikasi produk dan efisiensi biaya pertanian.
Pengurangan pembakaran jerami berkontribusi langsung terhadap perbaikan kualitas udara. Dengan berkurangnya asap pembakaran, angka gangguan pernapasan di masyarakat pun menurun secara drastis.
Selain itu, penggunaan kompos organik juga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga mendukung praktik pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Program ini juga memperkuat ketahanan energi lokal melalui pemanfaatan biogas dan dukungan PLTS untuk fasilitas pembelajaran masyarakat. Energi terbarukan yang dihasilkan membantu menekan biaya operasional serta mendukung aktivitas edukasi di Learning Center UKASEMA.
Jadi Tolak Ukur Pengelolaan Limbah Produktif
Roberth menegaskan bahwa SI CADIAK juga menjadi salah satu program perusahaan dalam mendukung pemenuhan kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).
Pendekatan berbasis inovasi dan dampak terukur yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat nyata di lokasi pelaksanaan, tetapi juga menjadi tolak ukur praktik pengelolaan limbah produktif berbasis masyarakat yang dapat diimplementasikan di berbagai daerah lain.
Sejalan dengan hal tersebut, Siti, anggota Kelompok UKASEMA, merasakan langsung manfaat berkelanjutan dari program ini.
“SI CADIAK bersama Pertamina bukan hanya tentang pertanian biasa, tetapi kami diajarkan untuk mengolah limbah dengan tepat dan menghasilkan produk yang bisa dijual dari limbah tersebut. Hasil limbah sedikit banyaknya bisa membantu menyambung hidup kami, di mana sebagian besar kami hanya buruh tani dan ibu rumah tangga. Kami sudah bisa menjual produk dari limbah, sehingga menghasilkan pemasukan tambahan bagi kami,” ungkap Siti.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga memberdayakan kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses ekonomi.
Kontribusi terhadap Agenda Pembangunan Berkelanjutan
Inisiatif ini selaras dengan komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan masyarakat, poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan nilai tambah ekonomi lokal, poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengelolaan limbah berkelanjutan, serta poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi dari praktik pembakaran jerami.
Dengan pendekatan kolaboratif antara perusahaan dan masyarakat, SI CADIAK membuktikan bahwa persoalan limbah dapat diubah menjadi peluang ekonomi sekaligus solusi lingkungan.
Program ini tidak hanya memberikan dampak lokal di Nagari Padang Toboh, tetapi juga berkontribusi pada agenda pembangunan berkelanjutan nasional melalui pengurangan emisi, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan ekonomi sirkular berbasis komunitas.