Tradisi Ramadan Dunia Penuh Warna Sambut Bulan Suci Bermakna

Rabu, 18 Februari 2026 | 10:16:36 WIB
Tradisi Ramadan Dunia Penuh Warna Sambut Bulan Suci Bermakna

JAKARTA - Ramadan selalu hadir dengan suasana berbeda di setiap penjuru dunia. 

Di balik kewajiban menahan lapar dan dahaga, terdapat ragam tradisi yang tumbuh dari akar budaya masing-masing masyarakat. Keunikan inilah yang membuat Ramadan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga perayaan identitas dan kebersamaan lintas bangsa.

Ramadan adalah bulan suci yang penuh makna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Ramadan menjadi bulan yang selalu dinantikan dan disambut dengan meriah. Selain menjadi momen ibadah, puasa, dan doa, Ramadan juga menghadirkan tradisi khas yang berbeda di setiap negara. 

Tradisi ini tidak hanya memperkuat nilai spiritual, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan kebersamaan masyarakat.

Dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, bahkan komunitas Muslim di Eropa dan Amerika, Ramadan dirayakan dengan cara yang unik dan penuh warna.

Fanous Mesir dan Semarak Cahaya Ramadan

Mesir – Fanous Ramadan
Di Mesir, Ramadan identik dengan lampion berwarna-warni yang disebut fanous. Lampion ini menghiasi jalanan, rumah, dan masjid. Tradisi fanous dipercaya sudah ada sejak era Fatimiyah dan kini menjadi simbol kebahagiaan serta semangat menyambut bulan suci.

Cahaya fanous yang menggantung di gang-gang kota menciptakan suasana hangat menjelang malam. Anak-anak hingga orang dewasa turut memeriahkan tradisi ini, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari memori Ramadan di negeri tersebut.

Turki – Drummer Sahur
Di Turki, penabuh drum berkeliling kampung untuk membangunkan warga sahur. Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun dan masih dijaga hingga kini. Bahkan, beberapa kota masih memberikan izin resmi bagi penabuh drum untuk melestarikan budaya Ramadan.

Suara tabuhan drum yang menggema di jalanan menjadi alarm tradisional yang khas. Kehadirannya bukan sekadar membangunkan sahur, tetapi juga menjaga kesinambungan warisan budaya.

Suara dan Simbol Kebersamaan Maroko hingga Indonesia

Maroko – Nafar
Di Maroko, seorang nafar meniup terompet tradisional untuk menandai waktu sahur. Suara terompet ini menjadi penanda khas Ramadan di berbagai kota, sekaligus menjaga nuansa kebersamaan masyarakat.

Tradisi ini menunjukkan bagaimana unsur seni dan religi berpadu dalam satu momen. Bunyi terompet yang khas menghadirkan rasa kebersamaan di tengah keheningan malam.

Indonesia – Padusan
Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa melakukan tradisi padusan, yaitu mandi besar atau berendam di sumber air untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini melambangkan kesiapan spiritual dan fisik menghadapi Ramadan.

Padusan biasanya dilakukan di sungai, mata air, atau pemandian umum. Selain sebagai simbol penyucian diri, tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi warga sebelum memasuki bulan penuh ibadah.

Masjid dan Hidangan Khas Pererat Silaturahmi

Brunei Darussalam – Berbuka Bersama di Masjid
Di Brunei, masjid menjadi pusat kegiatan Ramadan. Warga berkumpul untuk berbuka bersama, memperkuat ikatan sosial dan semangat kebersamaan. Pemerintah bahkan mendukung tradisi ini dengan menyediakan hidangan berbuka gratis di masjid-masjid besar.

Kegiatan ini menjadikan masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang interaksi sosial yang hangat dan inklusif.

China – Ramadan Muslim Hui
Komunitas Muslim Hui di China merayakan Ramadan dengan doa bersama di masjid dan berbuka dengan hidangan tradisional seperti mie halal. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana Islam beradaptasi dengan budaya lokal Tiongkok.

Perpaduan nilai Islam dan budaya setempat menciptakan warna tersendiri dalam praktik Ramadan di kawasan tersebut.

Aljazair – Hidangan Chorba
Di Aljazair, Ramadan dirayakan dengan hidangan khas chorba, sup tradisional berbahan daging dan sayuran. Hidangan ini selalu hadir di meja berbuka sebagai simbol kehangatan keluarga.

Chorba bukan sekadar makanan pembuka, melainkan simbol kebersamaan yang mempertemukan anggota keluarga di satu meja.

Jamuan Malam dan Ramadan Multikultural

Arab Saudi – Ghabqa
Di Arab Saudi, masyarakat mengadakan ghabqa, yaitu jamuan malam setelah tarawih yang mempertemukan keluarga dan sahabat. Tradisi ini memperkuat silaturahmi dan menjadi ajang berbagi kebahagiaan Ramadan.

Di Arab Saudi, masyarakat mengadakan ghabqa, yaitu jamuan malam setelah tarawih menjadi tradisi saat Ramadan. (PINTEREST)

Ghabqa menghadirkan suasana santai dan penuh keakraban, memperpanjang kebersamaan setelah ibadah malam.

Inggris – Ramadan di London
Komunitas Muslim di Inggris, khususnya London, menggelar acara buka puasa bersama di taman kota dan masjid. Tradisi ini mencerminkan keberagaman budaya dan memperlihatkan bagaimana Ramadan menjadi jembatan toleransi di negara multikultural.

Kegiatan buka puasa terbuka ini sering dihadiri berbagai kalangan, termasuk non-Muslim, mencerminkan semangat inklusivitas.

Amerika Serikat – Ramadan Multikultural
Di Amerika Serikat, Ramadan dirayakan dengan buka puasa bersama lintas komunitas. Masjid sering mengundang tetangga non-Muslim untuk berbagi hidangan, memperkuat toleransi dan persaudaraan. Tradisi ini menjadi simbol inklusivitas Ramadan di negara dengan masyarakat beragam.

Kehadiran berbagai latar belakang budaya dalam satu meja berbuka memperlihatkan bahwa Ramadan mampu menjadi ruang dialog dan persahabatan.

Tradisi Ramadan di berbagai negara menunjukkan bahwa bulan suci ini bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan dan identitas budaya. Keberagaman tradisi memperkaya makna Ramadan sebagai bulan penuh berkah.

Ramadan di seluruh dunia menghadirkan tradisi yang berbeda namun tetap berakar pada nilai spiritual yang sama. Dari lampion di Mesir hingga sahur dengan drum di Turki, setiap tradisi menjadi simbol kebersamaan, doa, dan harapan akan keberkahan.

Ramadan bukan hanya memperkuat iman, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan memperkaya budaya umat Muslim di seluruh dunia.

Terkini